BAB 3 BAGAIMANA URGENSI INTEGRASI NASIONAL SEBAGAI SALAH SATU PARAMETER PERSATUAN DAN KESATUAN BANGSA?

 A. MENELUSURI KONSEP DAN URGENSI INTEGRASI NASIONAL 

Makna Integrasi Nasional 

Secara etimologi, integrasi artinya pembauran menjadi satu kesatuan yang bulat dan utuh, sedangkan nasional berarti kebangsaan. Integrasi nasional secara terminologi menurut salah satu pakar Riza Noer Arfani (2001) yang berarti pembentukan suatu identitas nasional dan penyatuan berbagai kelompok sosial dan budaya ke dalam suatu kesatuan wilayah. Jadi, integrasi nasional adalah proses penyatuan berbagai suku, agama, budaya, dan daerah yang berbeda-beda menjadi satu kesatuan bangsa Indonesia yang utuh dan berdaulat. 

Jenis Integrasi 

Menurut Myron Weiner dalam Ramlan Surbakti (2010) lebih cocok menggunakan istilah integrasi politik daripada integrasi nasional. Integrasi politik dibagi menjadi lima jenis, antara lain:
  1. Integrasi Bangsa, proses penyatuan berbagai kelompok budaya dan sosial dalam satu kesatuan wilayah dan dalam suatu pembentukan identitas nasional.
  2. Integrasi Wilayah, masalah pembentukan wewenang kekuasaan nasional pusat  di atas unit – unit sosial yang lebih kecil yang beranggotakan kelompo – kelompok sosial budaya masayarakat tertentu, .
  3. Integrasi Elit-Massa, masalah penghubungan antara pemerintah dengan yang diperintah. Mendekatkan perbedaan – perbedaan mengenai aspirasi dan nilai pada kelompok elit dan massa.
  4. Integrasi Nilai, merujuk pada konsensus (kesepakatan bersama) terhadap nilai minimum yang diperlukan dalam memelihara tertib sosial.
  5. Integrasi Tingkah Laku, merujuk pada penciptaan tingkah laku yang terintegrasi dan yang diterima demi mencapai tujuan bersama.

Integrasi nasional dapat dilihat dari tiga aspek utama:

  1. Integrasi Politik, penyatuan masyarakat melalui sistem politik yang melibatkan dimensi vertikal (hubungan elit dan massa) dan dimensi horizontal (hubungan antar daerah, suku, dan golongan).
  2. Integrasi Ekonomi, terjadinya saling ketergantungan antar daerah untuk memenuhi kebutuhan hidup, yang mendorong kerjasama antara wilayah dengan latar belakang yang berbeda.
  3. Integrasi Sosial Budaya, proses penyesuaian unsur-unsur masyarakat yang berbeda (ras, etnis, agama, bahasa, kebiasaan) menjadi satu kesatuan, serta kesediaan kelompok-kelompok sosial budaya untuk bersatu.

Pentingnya Integrasi Nasional 

Integrasi nasional sangat penting untuk menciptakan kesatuan dan keselarasan dalam negara yang beragam, guna mencapai tujuan nasional seperti keadilan sosial, kesejahteraan, dan kedamaian. Integrasi juga diperlukan untuk membangun kesetiaan terhadap identitas nasional yang baru diciptakan, seperti bahasa, simbol negara, semboyan, dan ideologi nasional.

Integrasi Versus Disintegrasi

Disintegrasi adalah kebalikan dari integrasi, merujuk pada ketidakpaduan dan keterpecahan dalam masyarakat. Sementara integrasi menciptakan konsensus, disintegrasi dapat menyebabkan konflik dan pertentangan. Gejala disintegrasi bangsa muncul ketika kesatupaduan antar golongan memudar, seperti pertentangan fisik, perkelahian, tawuran, kerusuhan, dan bahkan perang. Meskipun masyarakat menginginkan integrasi, seringkali yang terjadi adalah gejala disintegrasi.

B. MENANYA ALASAN MENGAPA DIPERLUKAN INTEGRASI NASIONAL 

Integrasi nasional berperan penting dalam menjaga keutuhan dan kemajuan suatu negara, sehinngga integrasi nasional hadir untuk :
  • Mencegah konflik dan perpecahan
  • Memperkuat stabilitas dan keamanan nasional
  • Membangun solidaritas dan toleransi 
  • Mendorong Pembangunan dan kemajuan ekonomi 
  • Membentuk identitas nasional
  • Mengurangi ancaman disintegrasi
Dengan integrasi nasional yang kuat, suatu negara dapat lebih mudah mencapai cita-cita bersama dan menjaga keutuhan wilayah, serta menciptakan kondisi yang kondusif untuk kesejahteraan masyarakatnya.

C. MENGGALI SUMBER HISTORIS, SOSIOLOGIS, POLITIK TENTANG INTEGRASI NASIONAL

Perkembangan Sejarah Integrasi di Indonesia

Sejarah perkembangan integrasi di Indonesia menurut Suroyo (2002) :

    1. Model Integrasi Imperium Majapahit
        Integrasi pertama berbentuk kemaharajaan Majapahit yang memiliki struktur konsentris : 
  • Konsentris Pertama: Wilayah inti kerajaan di Pulau Jawa dan Madura, diperintah langsung oleh raja.
  • Konsentris Kedua: Wilayah luar Jawa (mancanegara dan pasisiran) yang otonom.
  • Konsentris Ketiga: Negara-negara sahabat (seperti Champa dan Kamboja) yang terhubung melalui hubungan diplomatik dan perdagangan.
    2. Model Integrasi Kolonial
  • Integrasi kedua diterapkan oleh pemerintah kolonial Belanda untuk membentuk "Hindia Belanda" dari Sabang sampai Merauke.
  • Menggunakan kekuatan militer dan maritim, serta jaringan birokrasi kolonial, namun tidak didukung oleh massa rakyat.
  • Integrasi ini dimaksudkan hanya untuk memastikan kesetiaan pada pemerintahan kolonial tanpa menyatukan keragaman bangsa secara sejati
    3. Model Integrasi Nasional Indonesia 
  • Integrasi ketiga berlangsung setelah kemerdekaan tahun 1945, yang bertujuan membentuk kesatuan baru, yaitu bangsa Indonesia yang merdeka.
  • Kesadaran berbangsa berkembang melalui organisasi pergerakan yang dipelopori oleh kaum terpelajar, yang menyadari pentingnya perjuangan melawan penjajahan. 
  • Integrasi nasional ini melalui empat tahap :
    1. Masa Perintis : Ditandai dengan berdirinya Budi Utomo (20 Mei 1908), sebagai awal Kebangkitan Nasional.
    2. Masa Penegas : Melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), masyarakat Indonesia menegaskan persatuan tanah air, bangsa, dan bahasa.
    3. Masa Percobaan : Organisasi pergerakan, termasuk GAPI, mencoba meminta kemerdekaan melalui Indonesia Berparlemen, namun tidak berhasil.
    4. Masa Pendobrak : Berhasil mencapai kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, menandai lahirnya negara kebangsaan Indonesia yang modern.

Perkembangan Integrasi di Indonesia

Berikut adalah lima pendekatan pengembangan integrasi nasional menurut Howard Wriggins (1995) :
  1. Ancaman dari Luar: Ancaman eksternal dapat mempersatukan masyarakat untuk menghadapi musuh bersama, seperti saat melawan penjajah
  2. Gaya Politik Kepemimpinan: Pemimpin yang karismatik dan berwibawa dapat menyatukan bangsa yang terpecah, contohnya Nelson Mandela di Afrika Selatan.
  3. Kekuatan Lembaga-Lembaga Politik: : Birokrasi yang solid membantu menciptakan pelayanan yang adil dan merata, sehingga menciptakan rasa persatuan di tengah masyarakat.
  4. Ideologi Nasional:  Nilai-nilai yang diterima dan disepakati bersama, seperti Pancasila, dapat menyatukan masyarakat meskipun beragam. seperti Pancasila, menyatukan masyarakat yang beragam.
  5. Kesempatan Pembangunan Ekonomi: Keadilan ekonomi mengurangi ketimpangan dan memperkuat persatuan bangsa.
Syarat Integrasi menurut Sunyoto Usman (1998)
  • Nilai Bersama: Kesepakatan nilai fundamental yang dirujuk bersama dapat menyatukan masyarakat.
  • Loyalitas Bersilang (Cross-cutting loyalty): Masyarakat dari latar belakang berbeda yang terlibat dalam organisasi yang sama akan cenderung bersatu.
  • Ketergantungan Ekonomi: Saling ketergantungan ekonomi antar kelompok menciptakan kesatuan.
Dua strategi kebijakan integrasi nasional (Sjamsudin, 1989)
  1. Policy Assimilation: Mengintegrasikan kebudayaan nasional dengan melebur identitas budaya lokal.
  2. Policy Bhinneka Tunggal Ika: Menyatukan bangsa tanpa menghapus keberagaman budaya lokal.
Kebijakan Penguatan Integrasi di Indonesia
  • Memperkuat nilai bersama untuk persatuan.
  • Membangun infrastruktur (jalan, gedung, pasar) agar masyarakat dari berbagai latar belakang dapat berinteraksi dan bekerja sama.
  • Menciptakan musuh bersama untuk memperkuat persatuan.
  • Memperkokoh lembaga politik yang adil dan melayani.
  • Menciptakan ketergantungan ekonomi antar kelompok.
  • Memperkuat identitas nasional sambil mendorong pembauran tradisi dan budaya lokal.

Pajak Sebagai Instrumen Integrasi Nasional

Pajak merupakan sumber utama pembiayaan negara yang penting untuk pembangunan fasilitas umum dan infrastruktur demi tercapainya kesejahteraan umum dan integrasi nasional.


D. MEMBANGUN ARGUMEN TENTANG DINAMIKA DAN TANTANGAN INTEGRASI NASIONAL

Dinamika Integrasi Nasional di Indonesia 

Sejak 1945, Indonesia terus berupaya membangun integrasi nasional, dengan berbagai dinamika yang mengikuti tantangan zaman. Terdapat lima jenis integrasi yang terjadi : 

  • Integrasi Bangsa: Pada 15 Agustus 2005, Indonesia berhasil mengintegrasikan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) melalui MoU di Helsinki, menyelesaikan konflik disintegrasi yang berlangsung sejak 1975.
  • Integrasi Wilayah: Deklarasi Djuanda pada 13 Desember 1957 menegaskan kedaulatan wilayah laut Indonesia, menjadikannya satu kesatuan yang menghubungkan pulau-pulau.
  • Integrasi Nilai: Pancasila berfungsi sebagai nilai integratif yang diajarkan melalui pendidikan, termasuk kurikulum pendidikan di sekolah.
  • Integrasi Elit-Massa: Pemimpin mendekati rakyat melalui berbagai kegiatan, memperkuat hubungan vertikal antara elit dan massa.
  • Integrasi Tingkah Laku: Pembentukan lembaga politik dan birokrasi yang teratur membantu mewujudkan perilaku integratif.

Tantangan dalam Membangun Integrasi

Integrasi nasional menghadapi tantangan dari dua dimensi:
  1. Dimensi Horizontal: Terkait perbedaan suku, agama, ras, dan geografi yang dapat memicu pembelahan dan primordialisme. Ketidakmerataan pembangunan dapat meningkatkan ketidakpuasan dan kerusuhan.
  2. Dimensi Vertikal: Berasal dari kesenjangan antara elit dan massa. Pemimpin perlu mendengar keluhan rakyat dan dekat dengan kelompok terpinggirkan.
Konflik antara dimensi horizontal dan vertikal muncul lebih nyata setelah reformasi 1998, dengan meningkatnya demonstrasi dan tindakan anarkis. Untuk mewujudkan integrasi, kebijakan pemerintah harus mencerminkan harapan masyarakat.

E. MENDESKRIPSIKAN ESENSI DAN URGENSI INTEGRASI NASIONAL

Integrasi masyarakat yang baik sangat penting bagi negara dalam mencapai tujuan nasional dan membangun kejayaan. Ketika masyarakat terjerat konflik, kerugian fisik dan mental akan dialami, seperti kerusakan infrastruktur dan perasaan cemas. Potensi sumber daya yang seharusnya digunakan untuk pembangunan justru terpaksa dialokasikan untuk menyelesaikan konflik. 

Meskipun integrasi masyarakat secara sempurna sulit dicapai, mengingat adanya potensi konflik akibat perbedaan suku, agama, dan budaya, tetap diperlukan usaha untuk menciptakan kesepakatan dan kerjasama. Kegagalan dalam mencapai integrasi dapat menghambat kemajuan bangsa dan bahkan mengancam kelangsungan hidup negara. Oleh karena itu, integrasi masyarakat harus selalu diupayakan untuk mencapai kejayaan nasional.


────୨ৎ────
Terima Kasih 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BAB 9 BAGAIMANA URGENSI DAN TANTANGAN KETAHANAN NASIONAL DAN BELA NEGARA BAGI INDONESIA DALAM MEMBANGUN KOMITMEN KOLEKTIF KEBANGSAAN?

BAB 5 BAGAIMANA HARMONI KEWAJIBAN DAN HAK NEGARA DAN WARGA NEGARA DALAM DEMOKRASI YANG BERSUMBU PADA KEDAULATAN RAKYAT DAN MUSYAWARAH UNTUK MUFAKAT?

BAB 2 BAGAIMANA ESENSI DAN URGENSI IDENTITAS NASIONAL SEBAGAI SALAH SATU DETERMINAN PEMBANGUNAN BANGSA DAN KARAKTER?